[Review] Absolute Justice - Akiyoshi Rikako

Title of Book:
Absolute Justice
Author: Akiyoshi Rikako
Publisher: Penerbit Haru
Publication Year: 2018
Translator: Nurul Maulidia
Language: Bahasa Indonesia
Format: paperback
Pages: 268


Seharusnya monster itu sudah mati ….


-----------------------


Akiyoshi Rikako merupakan salah satu penulis favorit saya. Buku apapun yang beliau tulis pasti langsung masuk daftar TBR saya walaupun deskripsi yang tercantum di buku hanya sebuah kalimat misterius yang sama sekali tidak menjelaskan tentang isi buku. Sebenarnya, untuk buku-buku misteri memang biasanya bagus tidak perlu terlalu tahu plot atau premis agar terasa kagetnya. Tapi untuk buku ini, mungkin lebih baik tahu sedikit agar paling tidak tahu apa yang diharapkan dan tidak sesakit hati saya.

Secara umum, buku ini berpusat pada 4 wanita bernama Yumiko, Riho, Reika, dan Kazuki yang bersahabat ketika SMA. Kemudian datang murid pindahan bernama Takaki Noriko yang ikut bergabung ke dalam kelompok mereka. Semakin mengenal Noriko, mereka semakin paham bahwa Noriko adalah orang yang menjunjung tinggi kebenaran. Kelima sahabat ini terus berhubungan sampai mereka lulus SMA bahkan sampai sudah bekerja dan berkeluarga. Nah, ketika mereka dewasa inilah mulai muncul konflik sakit jiwa khas Rikako sensei.

Inti dari cerita di buku ini adalah Takaki Noriko dan kebenaran. Menurut saya judul buku ini menjadi agak rancu karena keadilan dan kebenaran sepengetahuan saya bukanlah hal yang sama. Saya tidak akan membahas makna dari keadilan dan kebenaran karena bakal panjang dan saya juga bukan ahlinya. Yang jelas, Noriko adalah seorang tokoh yang sangat sangat menjunjung tinggi kebenaran (menurut dia). Saya bilang sangat sangat karena memang tidak ada toleransi di sikap Noriko. Kebenaran menurut Noriko adalah hitam putih seperti judulnya, absolut. Di sini saya tidak setuju dan tidak nyaman dengan tokoh Noriko. Karena menurut saya tujuan hidup itu bukan hanya ‘hidup dengan benar’ seperti Noriko tetapi untuk hidup virtuously, to live a virtuous life. Virtuous life ini jujur saya bingung menjelaskannya dalam Bahasa Indonesia karena saya sendiri masih perlu banyak belajar. Yang jelas tidak sehitam putih definisi Noriko. Makanya, dihadapkan dengan karakter seperti Noriko itu bikin saya naik darah sepanjang membaca buku ini. Filsuf-filsuf ternama dari dulu sampai sekarang saja butuh pemikiran yang dalam untuk menemukan definisi kebenaran dan keadilan. Itupun mereka sadar bahwa tidak akan absolut karena yang absolut hanyalah Tuhan. Eh ini malah menghakimi orang lain dan menganggap dirinya paling benar, seperti dia itu Tuhan. Dia lupa kalau dasar kebenaran yang dijadikan acuannya itu buatan manusia dan manusia bisa salah. Jadi kalau dia beranggapan dia sudah pasti benar itu ironically, tidak benar.

Walaupun tokoh utama dari Absolute Justice adalah Noriko, buku ini justru tidak diceritakan dari sudut pandang Noriko melainkan dari keempat temannya. Tetapi dari sini kita sebagai pembaca dapat melihat dampak dari ‘kebenaran Noriko’ dan pengaruhnya ke orang sekitar Noriko. Seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, Noriko ini termasuk tokoh yang susah untuk disukai. Padahal satu buku ini isinya ya tentang Noriko. Jadi, kalau merasa bakal tidak suka dengan tokoh yang seperti ini, mending tidak usah baca sekalian karena buat capek dan sakit hati. Jujur, kalau tahu bakal ketemu tokoh yang seperti ini saya mungkin mengurungkan niat untuk membaca buku ini. Mengingat situasi di dunia nyata yang sudah nggak karuan, saya nggak perlu dibuat tambah stress sama tokoh fiksi.

Padahal, kalau dari segi penulisan, plot, dan pacing Akiyoshi Rikako sudah tidak diragukan lagi. Cara beliau membangun tension dari awal sampai akhir sudah cocok bagi saya. Saya tidak merasa bosan karena pacingnya terlalu lambat atau overwhelmed karena terburu-buru. Sayang, tokohnya membuat saya tidak nyaman sama sekali. Jadi, kalau saya memberi rating yang tidak sebagus buku Beliau yang lain, bukan karena keahlian menulis Beliau tapi lebih ke karena perasaan yang ditimbulkan setelah membaca buku ini. Justru Beliau termasuk jago karena berhasil menciptakan tokoh yang meninggalkan kesan mendalam di pembaca. Berhubung rating ini sifatnya subjektif, jadi saya menilai buku ini juga dengan mempertimbangkan perasaan saya setelah membaca buku ini. 

Mungkin satu kekurangan buku ini adalah Akiyoshi sensei kurang memberi latar belakang Noriko. Noriko jadi seperti tokoh antagonis jaman dulu yang tidak punya personality selain suka menghakimi sesuka dia. Karakter Noriko kurang punya kedalaman. Sebabnya mungkin karena Noriko tidak diberi suara sendiri di buku ini. Tapi bisa jadi ini memang disengaja agar Akiyoshi sensei dapat mengembalikan lagi pertanyaan tentang kebenaran ke pembaca. Jika kebenaran Noriko menurut saya sebagai pembaca tidak tepat, apakah hal tersebut membuat apa yang dilakukan oleh keempat temannya di akhir menjadi benar?

Fun fact, ternyata buku ini sudah diadaptasi menjadi drama TV. Apakah saya akan menonton drama adaptasinya? Tentu tidak. Sudah cukup sekali bertemu tokoh yang seperti Noriko. Apakah saya merekomendasikan buku ini? Saya sudah menjelaskan kelebihan dan kekurangan buku ini menurut saya, silahkan nilai sendiri mau membaca atau tidak. Read at your own risk.



No comments :

Post a Comment